Mia KZL: Harga Diri

Mia KZL: Harga Diri

Sebel. Kadang gw sedih ngelihat orang Indonesia yang nggak punya harga diri.

Gw nggak menyalahkan orang mengidap colonial hangover (mentalitas inferior akibat bertahun-tahun dijajah) tapi kadang suka kebangetan. Ngelihat orang sini ngekor di belakang WNA (berkulit putih) kayak dayang-dayang. Tour guide bukan, tapi kayak berprofesi tour guide (udah melewati batas ‘ramah’ normal, menjilat lebih tepatnya). Internalised racism dan colonial mentality-nya itu, lho. Kasarnya, mereka punya “mental inlander”. Mau kasihan sama mereka, tapi malah bikin emosi jiwa karena itu bangsa gw sendiri (imbasnya, gw ikut ngerasa terhina dengan sikap menjilat mereka, kan).

Gw nggak membicarakan preferensi dalam kehidupan pribadi, ya (misalnya: kalo gw suka pacaran sama laki-laki asing karena gw berharap mereka nggak akan maksa gw hidup dalam tipikal pasangan “Indonesian Dream” yang sering gw lihat belanja di hypermarket/mall di Jakarta—sedangkan suami impian gw adalah The Constant Gardener, atau karena mereka nggak kayak rata-rata laki-laki WNI yang kalo gw cuekin langsung menganggap gw sok jual mahal padahal gw emang nggak tertarik). Preferensi hidup pribadi seseorang nggak terlalu mengganggu siapa-siapa, dan juga bukan urusan siapa-siapa…

Gw membicarakan sikap hidup masyarakat secara umum (dalam lingkup yang lebih luas, dan otomatis berdampak luas pula) yang menganggap apapun yang serba asing (terutama: Barat, kulit putih/kaukasia) pasti otomatis bagus, warna kulit yang lebih terang pasti lebih bagus… Bahkan ketika sekarang kita bikin produksi film/teater/seni apapun, kalau nggak yang bertampang Eurasian, malah sekalian dicari yang “eksotis” abis (yang ‘eksotisme’-nya tetep aja nggak realistis) sesuai pasar selera Barat. Apapun yang dipilih, kiblatnya pasti ke sana: If not to attempt to become them, to cater to them.

Gw belajar soal ‘race dynamics’ ini sejak gw masih kecil banget. Ceritanya gw saat masih sekitar 14 tahun, gw liburan sama keluarga gw di Bali. Selain pengalaman gw migrain karena kepanasan/dehidrasi dan pake HP bata Bokap-Nyokap gw buat nelfon temen di Jakarta, yang gw inget cuma ini: Ketika gw ngomong pake Bahasa Inggris (dan logat gw netral, Indonesianya nggak medok), penjual-penjual langsung jadi pada ramah sama gw karena gw dianggap Asia WNA/Eurasia (bukan WNI) sehingga gw lebih diladenin. Cuma, ya, itu: Kalo gw ngomong pake Bahasa Inggris di Bali, living cost-nya jadi naik jadi harga expat/turis asing, bukan lagi dikasih harga turis lokal. Semua orang tetiba jadi baik sama Nak Mia.

Di sisi lain, si pembeli juga insecure: Tahun ini gw [nggak sengaja] terjerumus (ditipu untuk masuk) ke dalam sebuah program (yang merasa bahwa mengundang pembicara tamu berkulit putih akan menjadikan program tersebut terlihat lebih meyakinkan dan credible) dan suatu ketika, salah satu pesertanya (sebut saja, namanya “WNInsecure”) berusaha ngajak ngomong WNA tersebut. WNA tersebut hanya bilang dia heran kok Indonesia perusahaan rokok boleh jadi sponsor pertunjukan teater (karena kalau di negara asalnya, pasti dilarang). Entah kenapa di tengah basa-basi “WNA tinggal di hotel mana” ini-itu, nggak ada angin dan nggak ada hujan, si WNInsecure merasa harus menjelek-jelekkan dan sok jijik dengan makanan jalanan (yang dijual pedagang kaki lima). Sampe gw miris banget dan ngerasa harus turun tangan belain penjual kaki lima—kurang-lebih gw bilang ke WNA tersebut bahwa, “I love street food! It’s authentic and fancy hotels can try to replicate what they sell all they want, but it’ll never be the same. If the street vendors in Jakarta had to get permits and comply to a certain standard of hygiene, they’d never work! Even selling street food would then be unaffordable to them, and the people who go into street food-vendoring are poor to begin with, they don’t even profit that much.”

Tega-teganya dia jelek-jelekin kelas bawah Indonesia cuma untuk meningkatan derajat dia sendiri karena dia sebagai orang Asia merasa inferior (dan yang begitu rata-rata emang kelihatan insecure dalam kehidupan sehari-harinya—gw perhatikan alumni universitas luar negeri yang sikapnya kayak gini adalah mereka yang selama kuliah di luar cuma bergaul sama sesama orang Indonesia dan/atau diperlakukan kayak warga kelas dua di sana). Seolah-olah pengen bilang, “orang Indonesia rata-rata nggak higienis tapi gw higienis, loh. Gw beda kelas.” She acts like she’s above everything Indonesian. Padahal, ya… Orang WNA-nya juga nggak komplen/ngomong negatif tentang penjual kaki lima di Jakarta, kok. Why would you throw Indonesian street vendors under the bus like that to make yourself look better?

Maksud gw, kalo temen gw baru banget datang dari luar negeri, gw juga nggak akan nekad-bego ngajak dia makan makanan kaki lima sebelum perutnya mulai terbiasa. Dan gw nggak akan membela Indonesia kalau memang Indonesia salah (misalnya: soal perusahaan rokok, gw setuju—toh perusahaan besar, nggak perlu dibela). Tapi ngejelek-jelekin pedagang kaki lima ke WNA tanpa ada yang mengangkat topik itu kan nggak perlu juga! Unnecessary tingkat tinggi aja, sih. Dasar dianya aja bermental insecure… Pedagang kaki limanya aja santai. LOL.

Jadi bagi WNI insecure, lebih baik ngejelek-jelekin bangsa sendiri (walaupun Pemerintah Indonesia juga nggak menjamin kesejahteraan mereka) daripada membela bangsa sendiri. Seandainya orang WNA tersebut komplen, dia bukannya akan membela posisi si penjual melainkan ikut komplen supaya bisa berada di “level” yang sama dengan si WNA (seolah menjadi “salah satu dari mereka” ceritanya).

Sampe kadang gw pikir satu-satunya jenis manusia Indonesia yang masih punya harga diri adalah mereka yang cukup kuat untuk punya mentalitas seorang duta besar/diplomat. Yang tahu cara standing their ground. Mereka yang kalau berhadapan dengan orang kulit putih masih memperlakukan mereka sebagai equal dan berani bilang ‘tidak’, kayak: “No, this island is not for sale. No, this bit of the South China Sea is ours, so kindly keep your hands off it. No, you cannot say this or that about my nation/race, you racist jerk!”

Gw ngerasa punya mentalitas yang cukup kuat untuk jadi diplomat, tapiii… Gw cuma nggak cukup diplomatik dan kesabaran gw terlalu terbatas (kalo komunikasi terlalu literal dan sering keburu marah). LMAO. Maksud gw, gw masih punya kemampuan untuk medeteksi penghinaan terhadap bangsa, gw udah nggak norak lagi masih menganggap semua bentuk perhatian dari orang asing (terutama berkulit putih/dari negara Barat) bisa langsung dianggap positif (bangsa Indonesia di tahun 2016 itu kayak ABG: Dikasih perhatian sama kakak kelas langsung jungkir-balik ke-ge-er-an karena baru puber). Gw paham, Indonesia sebagai bangsa masih muda. Tapi sikap kayak begitu cuma masih pantas kalo kita baru merdeka 50 tahun yang lalu, apalagi sekarang udah pada punya Internet sehingga punya akses yang lebih bagus untuk informasi yang membuka mata. Ketika kita udah merdeka 71 tahun, udah nggak pantes lagi kita bersikap seperti ini… Bangsa kita tuh kayak cewek yang dilecehkan secara seksual (misalnya disuit-suitin/dicolek di pinggir jalan kayak obyek tanpa perasaan/otak, tapi malah tersanjung).

Udah waktunya kita bersikap dewasa sebagai bangsa.

Dan setidaknya kalau gw pake bahasa campur-campur Indonesia/Inggris di sini, itu karena emang pilihan sadar atas pertimbangan bahwa keluarnya lebih luwes dan/atau nggak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia (tapi kalo masih bisa gw usahain pake Bahasa Indonesia, ya gw pake… Misalnya dalam kalimat ini gw bela-belain lihat kamus untuk nyari Bahasa Indonesia kata “consideration” karena gw baru bangun tidur dan pengen pake kata “pertimbangan” tapi nggak bisa inget padanan kata yang tepat). Bukan sekedar nyelipin kata-kata asing yang nggak perlu ke dalam kalimat-kalimat cuma untuk “membuktikan sesuatu”.

Kalo gw pake kata “gezelligheid”, “hygga”, “lagom”, “saudade” tanpa diterjemahkan masih wajar. Gw juga bukan tipe orang yang ngotot nerjemahin “selfie” jadi “swafoto” (lagipula aneh banget). Tapi masa iya, “which is” nggak bisa loe terjemahin ke “yang mana”?

Astaga: Orang sini mau bilang cinta Indonesia aja harus pake kata “damn”, lho (gw mendingan beli stiker “ACI”). Bener-bener nggak habis pikir gw. Mending kalo justifikasinya karena mereka pengen memperluas pasar ke kalangan Anglophonie, tapi kalo tujuannya meningkatkan rasa patriotisme di antara orang Indonesia sendiri kan kontraproduktif dan oksimoronik jadinya… Nggak masuk akal.

Gw bukan orang yang sok nasionalis, kok: Gw terang-terangan nggak suka dengerin musik Indonesia karena vokalis Indonesia zaman sekarang cenderung seneng pake logat sok kebarat-baratan, yang kalo nyanyi harus jijay “akhyuuu chyintha khamuuuw” (nggak kayak zaman Koes Plus yang apa adanya dan santai dengan identitasnya sebagai orang Indonesia). Euwww… LMAO. Malu sendiri gw dengernya… Gw seneng mengoleksi benda seni tapi kalau kualitas cetak produksi Indonesia nggak bagus atau the art doesn’t speak to me, gw nggak merasa “wajib” beli cuma demi “mendukung karya anak bangsa”. Di sisi lain, gw akan mendukung dan rekomen produk Indonesia kalau emang gw anggap bermutu (misalnya: Eyeshadow Sariayu atau Peeling Mundisari-nya Mustika Ratu).

Dan kalau udah ngerasa “the art doesn’t speak to me”, terus mau apa? Masa iya gw harus membohongi diri sendiri maksa beli juga karena pengen dibilang cinta Indonesia? Lantas apa bedanya sama orang yang nonton pertunjukkan bertiket mahal, foto-foto di depan backdrop buat dipasang di sosmed, tapi tidur selama pertunjukkan? Toh harusnya yang menikmati gw, bukan follower gw di sosmed.

Lagian nggak semua orang yang menerjemahkan karya asing bisa dibilang “cinta Indonesia” juga (dalam arti pengen meningkatkan aksesibilitas suatu karya bagi orang Indonesia). Contoh: Penerjemah karya Shakespeare di Indonesia malah menerjemahkan ke dalam jenis Bahasa Indonesia yang sulit dimengerti, padahal Indonesia kuno (semacem Elizabethan English) juga bukan… Pokoknya nggak ada basisnya (bahkan gw rasa mereka bela-belain ngubek thesaurus buat nyari sinonim—yang aslinya mereka sendiri belum pernah mereka dengar/pakai sebelumnya—biar kelihatan pinter, LOL). Cuma pengen sok-sokan aja masukin unsur Indonesia karena pengen pamer. Elitis. Pretensius. Gw lebih mendukung Shakespeare yang ditampilkan dalam bahasa aslinya (Inggris kuno) tapi dikasih subtitle Bahasa Indonesia yang mudah dimengerti semua orang (bukan terjemahannya yang dilakonkan) supaya bisa dinikmati semua orang.

Orang Indonesia bahkan ketika dihina orang asing pun (entah 100% asing, setidaknya berdarah campuran, setengah muggle, maupun pureblood wizard) bukannya sadar sedang dijadikan obyek penderita, malah seneng dan ge-er tersipu-sipu. Kayaknya malang banget hidupnya: “Nggak papa, deh, bangsa kita dihina… Yang penting keberadaan kita diakui secara innernesyenel.” Kasihan banget. Nggak ngerti bedanya/kapan pantasnya ikut “laughing with them” dengan mengenali kapan “we’re being laughed at“.

Misalnya: Ketika orang asing (entah bener-bener expat 100% asing atau berdarah campuran) bikin video “Bagaimana Cara Bersikap Seperti Orang Indonesia”, orang Indonesia malah merayakan itu, ikut-ikutan tertawa (padahaaalll… Kalau orang tersebut bikin video dengan tone kayak begitu itu di negara asalnya, orang itu pasti dianggap rasis abis—mungkin cuma orang-orang kayak Donald Trump yang akan nggak menganggap itu rasis/meremehan orang Indonesia—tapi karena orang sini nrimo aja diperlakukan kayak begitu, dan orang tersebut merasa diterima di sini, padahal di negara asalnya video kayak gitu pasti diprotes dan dibilang rasis, maka dia betah). Gw sendiri sering mengamati sikap orang Indonesia memperlakukan ekspat dengan cara-cara yang bisa menjadikan orang yang [mungkin] tadinya di negara asalnya nggak akan berani ngomong rasis, bisa tiba-tiba jadi berperilaku kayak slave master. Gw lihat sendiri, dari pengalaman, sikap orang Indonesia yang memperlakukan WNA kayak semacem “dewa” ini bisa mentransformasi ekspat yang tadinya nggak rasis saat pertama landing di Indonesia, menjadi rasis setelah beberapa lama tinggal di sini.

Jadi jangan salahkan gw kalo gw jadi alergi sama daerah Kemang (cuma mau lewat situ buat audisi, mau les Bahasa Prancis, atau kalau diajak teman). Pemandangan yang gw lihat kayak begitu. Belum lagi isinya hipster melulu. Dan apalah substansi hipster tanpa gayanya? Kerjaannya pake manusia lain (baik WNA maupun WNI) sebagai prop foto di sosmed sebagai simbol status. Kalau WNA yang dipake foto bareng kebetulan rasis gw cuma bisa bilang, “you deserve each other.”

Kayaknya pengakuan dari dunia Barat (terutama bangsa kulit putih) itu penting banget buat orang kita. Misalnya: Ketika ada aktor Indonesia tetiba di-cast di filem Hollywood, kita langsung pasang layar tancep dari Sabang sampe Meroke dan ke-249,900,000 warga nonton semua. LOL. Dan filemnya bakalan diputer di bioskop selama 9 bulan (giliran “Macbeth”-nya Fassbender aja cuma bertahan setengah minggu—pedahal udah dikasih subtitle lumayan bagus—kalo bukan karena gw buru-buru nonton hari Senin, weekend berikutnya udah nggak ada lagi di bioskop). Padahal… Aktor Indonesia yang bersangkutan cuma ada di layar selama sepersekian detik, dan nggak terlalu ngapa-ngapain jugak (cuma kebetulan dia lahir sebagai orang Indonesia, gitu). Itu menurut gw bukan apresiasi terhadap akting/aktor-nya sendiri (maaf, ya… Gw bukan mau menghina sesama aktor, tapi gw cuma pengen blak-blakan aja di sini, bukan maksud menghina—peace) tapi sekedar “bangga” atas ‘pengakuan’ Hollywood (bangsa kulit putih) bahwa bangsa Indonesia exist aja.

Gimana kalo ada orang Indonesia yang menang Oscar, yah? Bisa langsung nyungsep kelelep kayak Atlantis kita semua saking girangnya.

Nggak usah jauh-jauh filem Hollywood atau menang penghargaan tingkat innernesyenel, deh… Orang Indonesia kadang baru lihat WNA pake baju batik aja langsung becucuran air mata, kok! Ampun, deh… Anak loe lulus S3 aja nggak loe mewekin sampe segitunya, Buk…

Bangga, sih, nggak papa… Kalo loe bisa ikut merasa seneng lihat orang lain sukses, itu pertanda loe masih waras. Senang melihat orang lain senang itu baik. Tapi kenapa semuanya harus bergantung sama pengakuan bangsa kulit putih?

Itu yang gw pertanyakan dan permasalahkan di sini.

Dan sikap ini malah makin jelas di mata gw belakangan ini, karena standar gandanya makin kelihatan jelas: Ketika seorang WNA main-mainin agama (misalnya pake atribut agama terus ngenyek orang Indonesia seolah kita bangsa yang simple-minded dan terbelakang di YouTube), orang Indonesia ikut ketawa karena bersyukur dan tersanjung “budaya” [stereotip yang jelek-jelek] kita menjadi perhatian orang asing sama sekali. Tapi ketika warga negara kita sendiri, misalnya: Ahok, dianggap menghina agama di Indonesia, orang marahnya minta ampun, tanpa batas, sampe demo dan menyeret yang bersangkutan ke pengadilan. Bahkan setelah Ahok udah tulus ngaku salah ngomong dan minta maaf pun, masih banyak yang nggak mau terima permintaan maafnya.

Coba kalau Donald Trump, Geert Wilders, Richard Spencer yang diprotes… Mana mau mereka minta maaf? Wilders malah ngeyel:

Jadi kalo “bule” (gw cenderung menghindari pake kata ‘bule’ karena katanya banyak ekspat yang menganggap itu ofensif, kayak semacem “cracker” dianggap hinaan/pejoratif/slur di Amerika Serikat—tapi gw akan pake sekali di sini dengan maaf supaya yang gw komunikasikan di sini bisa jelas) yang menghina agama, orang Indonesia nggak marah… Tapi giliran orang Indonesia keturunan Tionghoa yang ngomong, orang Indonesia bukan cuma marah, tapi bahkan setelah orangnya udah minta maaf, masih juga marah. Standar ganda.

Gw di sini bukan bertujuan membela Ahok, ya… Gw cuma pake kasus Ahok sebagai contoh/perbandingan aja. (Sama sekali nggak ada kepentingan politik, cuma ngajak introspeksi aja sebagai bangsa.)

Di luar kita melihat orang-orang kayak ketiga orang yang barusan gw sebutin meninggi-ninggikan ras/bangsa mereka dan merendahkan kita:

Kenapa lantas jadi kita merendahkan diri kita sendiri?

Situasinya fucked-up banget, menurut gw: Di luar negeri, orang kulit putih ngusir pengungsi (bahkan ada negara keluar dari Uni Eropa cuma gegara warganya nggak suka/nggak terima negaranya bantuin pengungsi perang). Tapi di Indonesia, kita malah dengan terbuka nerima warga asing untuk nyari makan di sini dengan cara membuat ‘hiburan’ yang melecehkan bangsa kita sendiri. Pusiiing kepala Mia, pusssiiinggg…

Kadang sampe gw pikir, jangan-jangan kalo ada perusahaan asing bikin tisu toilet bercorak batik, orang Indonesia bakalan nge-tweet dan nge-RT berulang-ulang dengan hashtag tagar #BANGGA. Padahal batik dipake wiping their asses… Dari pup. 💩💩💩

Kalo jabatan penting/tinggi di sektor swasta udah kalian kasih ke WNA semua, sekalian aja besok-besok Kepala Negara juga kita outsource dari negara Barat juga.

Biar sekalian dijajah lagi.

Advertisements

One thought on “Mia KZL: Harga Diri

  1. Reblogged this on MiaDjojowasito.com and commented:
    IDK what got into me. I just woke-up, snapped, and started to speed-type this on Monday morning (I was still half asleep, in a dreamlike state, when I wrote this that I had to look up “consideration” in the dictionary because I forgot what the Indonesian word for it is—so I’d say this is part of my honest subconscious). Didn’t even have this set-up in my social media planner. It felt urgent. Though I did some paragraphs before finally making it public Tuesday though. I nearly titled it “Mia KZL: Manifesto Harga Diri” after ‘A Virgin’s Manifesto’ from “Cruel Intentions” but decided against it because it sounded dumb and silly. LOL.

    I’m reblogging this here, on my English blog, because it does touch upon film, theatre, acting, and casting. But we warned: It’s mostly not in English (there are untranslatable English bits sprinkled here and there, but running it through Google Translate won’t do since it’s mostly Jakartan slang).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s