“Surat Wasiat” Korban KDRT

“Surat Wasiat” Korban KDRT

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah salah satu situasi kekerasan yang paling menakutkan yang dapat dia alami seseorang, terutama perempuan.

Hal ini disebabkan karena KDRT justru terjadi di dalam rumah tempat tinggal korban di mana korban seharusnya merasa aman. Selain itu, pelakunya biasanya adalah keluarga/pasangan sendiri yang seharusnya adalah tempat berlindung.

Perasaan tidak aman, was-was, gelisah di rumah sendiri adalah sesuatu tidak wajar dan sangat tidak sehat secara psikologis.

KDRT dapat tidak teratasi dan terjadi secara berlarut-larut karena:

  1. Korban takut kalau melapor, [para] pelaku akan balas dendam, sehingga justru akan memperparah situasi sebelumnya.
  2. Tidak berani meninggalkan rumah tersebut karena memikirkan anak, saudara lain yang menjadi tanggung jawab korban, bahkan hewan peliharaan milik keluarga yang menjadi tanggung jawab korban.
  3. Korban tergantung pada pelaku kekerasan untuk tempat tinggal atau secara finansial.
  4. Pelaku mengancam korban ketika korban terlihat mencari bantuan. Contohnya: Seorang anak yang berusaha melerai orangtuanya yang bertengkar, ketika si anak bilang, “berhenti atau saya akan telepon polisi untuk lapor KDRT!” Si Ayah malah menghukum baik ibu maupun anak dengan mengunci di dalam ruangan selama berjam-jam jauh dari alat komunikasi. Korban tidak diperbolehkan keluar sampai korban mencoba bunuh diri selama dikurung.
  5. Saksi luar KDRT enggan bertindak (misalnya: tetangga yang tidak mau menelepon polisi karena merasa itu bukan urusannya, atau menggunakan contoh di atas ketika si Ayah menenerima telepon, dan di anak teriak meminta tolong sampai orang yang ditelepon si Ayah mendengarnya, orang tersebut tidak mau melaporkan adanya orang yang dikurung karena merasa tidak mau ikut campur).
  6. Korban malu karena menganggap bahwa KDRT adalah hal yang tidak sepantasnya terjadi pada keluarga dengan jenjang pendidikan atau kelas sosioekonomi tertentu, malu dengan tetangga/keluarga besar.
  7. Korban malu karena asal mula pertengkaran sangat, sangat sepele! Misalnya: Sebuah rumah tangga memiliki robot vaccum cleaner yang sementara tidak digunakan karena suatu hal (misalnya disembunyikan sementara karena ada kucing yang belum disteril yang suka mengencingi barang tersebut). Salah satu anak perempuan keluarga itu pesan agar barang tersebut disimpan untuknya, tapi suatu hari malah diberikan ke saudaranya yang lain (sehingga dia merasa bahwa omongannya/permintaannya tidak pernah dianggap serius). Si anak bertanya baik-baik kepada orangtua, tapi malah dijawab dengan ketus (sehingga si anak malah makin merasa posisinya dalam keluarga itu terancam). Lalu, si anak panik/kalap dan mulai melakukan tindakan tidak rasional, karena otaknya sulit memproses diperlakukan seperti ini (misalnya buru-buru berangkat beli vaccum cleaner robot otomatis baru, yang jelas tidak menyelesaikan masalah—karena sebenarnya dia kalap karena perlakukan ketus oleh orangtua/frustrasi karena lagi-lagi merasa tidak dianggap/tidak didengar di rumah). Ketika ini terjadi, orangtua dan saudara lainnya berkumpul untuk menyerang si anak perempuan, sampai salah satu anak mulai menjambak dan hampir melempar perabotan kayu berat (misalnya tiang cakaran kucing seberat ~5kg). Mungkin si anak perempuan akan terlalu malu untuk melaporkan KDRT yang dialaminya karena merasa bahwa orang akan menghinanya karena “berantem soal barang sepele” seperti vaccum cleaner (walaupun sebenarnya dia kalap karena merasa tidak didengar dan panik karena bingung dengan sikap ketus orangtuanya). Bayangkan kalo dia sampai mati terbunuh hari itu dan masuk kasus pembunuhannya masuk koran sensasionalis yang akan melaporkan “pembunuhan terjadi karena hal sepele: berebut robot vaccum cleaner”, bayangkan betapa malunya keluarga tersebut. Belum lagi mungkin ada pembaca tidak peka yang akan menertawakan, “hahah! Nih cewek mati demi Roomba? Goblok amat!”
  8. Karena keluarga korban malu dan/atau tidak mau menerima kenyataan bahwa salah satu anggota keluarganya punya masalah psikologis yang menyebabkan kecenderungan melakukan tindak kekerasan (atau sekedar terlalu memanja pelaku, atau bahkan pilih kasih) sehingga menutup-nutupi terjadinya KDRT dalam keluarga tersebut. Misalnya: Orangtua yang tidak pernah mau menerima kenyataan bahwa anak kesayangannya mempunyai kecenderungan melakukan tindakan kekerasan tidak akan menghukum anak yang sering membahayakan anak yang lainnya. Sehingga anak tersebut bisa hampir membunuh saudaranya sendiri ketika marah tidak terkontrol, tapi paling parah hanya “dihukum” dengan dikirim kerja ke luar kota (tapi tetap difasilitasi mobil, apartemen, dll). Kedua orangtua mungkin akan melerai [hanya secara fisik] ketika anak yang kasar menjambak korban atau hampir memukul korban dengan tiang cakaran kucing kayu dengan berat setidaknya 5kg tapi mungkin akan tetap menyalahkan korban dengan mengatakan korban “menyebalkan” atau “pantas diperlakukan seperti itu” (padahal, tidak ada perilaku yang membuat orang pantas untuk mati karena KDRT).
  9. Korban [buat] merasa bersalah dan/atau bermasalah. Misalnya karena keluarga korban selalu mengatakan “korban menyebalkan”, atau bahkan mengungkit permasalahan lain korban (misalnya diputusin mantan pacar bertahun-tahun lalu, pernah dijatuhkan saingan di kantor) dan menggunakan contoh-contoh konflik di luar rumah tersebut sebagai “bukti” bahwa korbanlah yang “bermasalah” dan pantas dipukul, dsb (padahal hampir semua orang pasti punya saingan di tempat kerja dan hampir semua orang pernah putus dengan pacar—bukan berarti kalau itu terjadi pada kita, berarti kita orang yang buruk). Dan kalaupun seseorang buruk, itu bukan justifikasi untuk membunuh seseorang.

Di budaya Indonesia (di mana anak, terutama anak perempuan, yang berusia di atas 18 tahun masih boleh tinggal di rumah orangtua selama belum menikah) hal ini bisa menjadi sumber ketakutan luar biasa. Apalagi kalau korban tidak bisa seenaknya meninggalkan rumah karena punya tanggung jawab dalam rumah tersebut (terutama tanggung jawab merawat saudara yang lebih kecil, anggota keluarga lansia, bahkan binatang peliharaan keluarga tersebut).

Walaupun korban KDRT seringkali “terikat” dengan tempat tinggalnya, tapi jenis kekerasan mental/emosional yang umum terjadi adalah pelaku membuat korban merasa tidak ikut memiliki rumah, tidak punya hak di rumah, dan merasa bahwa dirinya “hanya menumpang” di rumah tersebut. Sehingga korban merasa tidak memiliki fondasi hidup yang kokoh.

Korban juga bisa sulit meninggalkan rumah tempat terjadi KDRT kalau kendaraan pribadi korban dikunci di garasi dan akses terhadap transportasi umum agak sulit di daerah tempat tinggalnya.

Alasan nomor 8 di atas adalah hal yang sangat menyakitkan bagi korban karena anggota keluarga lainnya memperlakukan semua anggota keluarga secara setara, pastinya akan merasa tidak disayang, dianaktirikan, dan khianati keluarganya sendiri yang seharusnya melindunginya.

Belum lagi perasaan hidup penuh ketakutan dan rasa tidak aman seperti merasa terancam dalam tempat tinggalnya sendiri 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Yang paling menyakitkan adalah, kalau sampai KDRT tersebut menyebabkan hilangnya nyawa korban, anggota keluarga lainnya mungkin akan justru melindungi pelaku dengan menutup-nutupi penyebab kematian yang sebenarnya (misalnya dengan mengklaim bahwa kematian disebabkan oleh “kecelakaan” atau bunuh diri).

Setidaknya, kalau seorang korban KDRT sampai kehilangan nyawa, pelakunya harus dihukum dengan seberat-beratnya—terutama kalau selama masa hidup korban, pelaku selalu dibiarkan berperilaku sedemikian rupa, dan malah dibela.

Kalau kamu seorang korban KDRT, untuk memastikan bahwa kalau sampai kemungkinan yang terburuk terjadi (kehilangan nyawa) kamu akan mendapatkan keadilan atas tindak kekerasan yang kamu alami, ada baiknya kamu tulis “surat wasiat” untuk disampaikan kepada pihak berwajib. Surat ini bisa kamu titipkan kepada teman dekat yang kamu percaya, tetangga, bahkan satpam lingkungan kamu. Berikan suratnya secara diam-diam dan minta mereka untuk merahasiakannya sampai kamu meninggal.

Beberapa elemen penting yang harus kamu sertakan dalam “surat wasiat” ini adalah:

  • Identitas jelas kamu: Nama sesuai KTP beserta nomor KTP (ini penting, agar dapat dicocokkan dengan akta kematian nantinya).
  • Alamat lengkap (terutama kalau ini juga merupakan tempat terjadinya KDRT yang kamu alami).
  • Jelaskan apakah alamat tersebut adalah alamat tempat terjadinya KDRT atau apakah ada tempat lainnya juga (ini penting untuk membantu mempermudah polisi dalam melakukan investigasi, polisi bisa melihat ada alat/benda apa saja yang mungkin menyebabkan kematian atau memeriksa bercak darah yang tidak konsisten dengan “kecelakaan” atau tindakan bunuh diri).
  • Jelas latar belakang perkara dengan cukup singkat (seperlunya) dan jelas.
  • Sebutkan nama pelaku KDRT selama kamu hidup dengan jelas.
  • Sertakan hubungan pelaku KDRT dengan kamu (kakak/adik/ayah/ibu/suami/istri/saudara lain yang tinggal serumah atau sering menginap/berkunjung).
  • Lengkapi dengan beberapa contoh singkat perilaku KDRT yang paling sering dilakukan orang tersebut.
  • Kalau sifat/perilaku pelaku KDRT di luar rumah (kepada pihak luar) sangat berbeda dengan perilakunya terhadap orangtua atau keluarga, boleh juga disebutkan. Contohnya: Kesannya santun di kantor dan sopan terhadap orang yang dianggapnya dapat membantu memajukan karirnya, padahal di rumah kasar secara fisik (bahkan brutal) dengan keluarganya sampai ibunya pernah hampir terseret di tangga saat melerainya. Atau apakah dia memiliki sesuatu yang membuat orang tidak percaya bahwa dia kasar (misalnya kalau dia berpendidikan tinggi, atau pernah kuliah di luar negeri).
  • Sebutkan nama pembela pelaku KDRT juga dengan jelas.
  • Mohon bantuan pemegang surat untuk menyampaikan surat ini kepada pihak berwajib (ini bisa ditulis di amplop juga) jika kamu meninggal secara tidak wajar.
  • Mohon bantuan kepada pihak berwajib untuk mengusut kematian kamu dengan tuntas untuk memastikan bahwa memang kematian kamu memang benar “kecelakaan” atau bunuh diri—kalau keluarga mengklaim itu alasannya, dan bukan kematian yang disebabkan oleh KDRT atau pembunuhan yang terencana. Minta otopsi menyeluruh dengan rincian jenis/bentuk luka yang ada di jenazah.
  • Jelaskan kondisi fisik kamu, misalnya: Tinggi/berat badan atau kondisi medis yang kamu milki (misalnya, apakah kamu punya penyakit kronis yang membuat badan kamu lemah). Ini akan relevan untuk menunjukkan apakah klaim bahwa pelaku KDRT yang membunuh kamu “hanya menyakiti diri kamu untuk kepentingan bela diri” masuk akal atau tidak.
  • Ingatkan bahwa, kalaupun nanti mereka melakukan smear campaign terhadap diri kamu (menjelek-jelekkan karakter kamu untuk menghilangkan kredibilitas kamu) setelah kematian kamu, bahwa apapun yang mereka tuduhkan bukan justifikasi untuk melakukan pembunuhan.
  • Bilang “terima kasih” kepada semua yang membantu kamu dengan surat kamu.

Contoh surat:TEMPLATE “Surat Wasiat” ini bisa kamu download di sini.

Jangan lupa untuk sertakan juga foto/hasil scan KTP kamu (sehingga nantinya mudah dicocokkan dengan Akte Kematian).

Jangan lupa ambil foto luka/memar (kalau ada) dan simpan semua, bahkan misalnya kamu dijambak pun foto juga rambut yang rontok beserta bagian yang dijambak:

Kalaupun kamu sekarang hidup dalam ketakutan dan tidak bisa lari, setidaknya kamu bisa tenang bahwa nantinya dalam kematian kamu bisa mendapatkan keadilan.

Kalaupun kamu malu untuk lapor polisi atau nulis status (demi keamanan kamu) di sosmed, setidaknya kasih tahu teman-teman terdekat kamu. Jadi kalo terjadi hal-hal yang tidak wajar terhadap diri kamu, orang akan tahu.

Kalau kamu punya masukkan lain untuk korban KDRT sehingga mereka bisa mendapatkan keadilan, silahkan tinggalkan masukan kamu dalam sebuah komentar di bawah. Terima kasih dan jaga diri, ya…

CATATAN: Ironisnya, artikel ini diinspirasi oleh cerita kejadian KDRT yang terjadi hari Minggu (tanggal 25 November 2018) kemarin, dan secara kebetulan itu adalah International Day for the Elimination of Violence against Women (HAKTP, Hari Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan). Wow. Perempuan dipukul wajahnya, diteriaki, dijambak sampai sekitar 2 menit, dipegang supaya nggak bisa lari, dan bahkan hampir dibunuh dengan perabot berat di hari itu juga… Setidaknya semoga artikel ini bermanfaat bagi yang lain.
Mia Heran: Terus kalo ik keselek, emangnya vous mo tanggung?

Mia Heran: Terus kalo ik keselek, emangnya vous mo tanggung?

Let them eat cake, lah...
Let them eat cake aja, lah…

Daripada pemilu, mendingan semua kandidatnya makan beginian bareng-bareng terus yang dapat fève-nya boleh jadi presiden. Ini semua salahnya Prancis, gara-gara Prancis semua jadi ikut-ikutan pake demokrasi. Terus yang menang yang populis-populis tapi rasis kayak Trump sama Le Pen. “Populiste” mon cul! In what universe do one percenters like Donald Trump win “populist” votes? Sampe gw Google arti kata “popculis” karena gw pikir gw salah ngerti arti kata tersebut (ternyata enggak, loh). I feel like I’m living in a constant state of being gas-lit… Yang gila sebenernya siapa, sih?

ETA: Terus pas nulis begini tiba-tiba dapet notifikasi ini:

Nih pasti karma gegara ngejelek-jelekin Prancis, nih... Pasti karma.
Nih pasti karma gegara ngejelek-jelekin Prancis, nih… Pasti karma.